Apakah kamu member?

KISAH BERLIAN TENTANG LEBAH DAN RAYAP

Hujan deras membilas hutan Gunung Belah sejak pukul 4 pagi. Akibatnya, aktivitas orangutan sedikit melambat. Berlian mempergunakan kesempatan ini untuk meneruskan tidurnya sampai sekitar jam 10 pagi, dan ketika bangun, bukannya segera mencari makan biasanya, dia hanya bermalasan untuk sementara waktu. Duduk di cabang, dia memayungi kepalanya dengan beberapa lembar daun besar. Bahkan pohon Ficus di dekatnya yang sedang berbuah lebat tidak dihiraukannya. Ini benar-benar pagi yang dingin.

Namun menjelang tengah hari, Berlian akhirnya merasa lapar. Dia pun berayun ke pohon Ficus dan mulai makan buah-buahan. Tanpa diduga, sekelompok lebah jelas terganggu oleh aktivitas Berlian, yang kemudian memuncak dalam serangan mendadak. Berlian harus cepat turun dari pohon dan berlari di tanah untuk menghindari sengatan. Dia terus berlari ke arah Deni, Izur, drh. Agus, Masino dan Putri, yaitu tim Post Release Monitoring (PRM) kami. Melihat sekawanan lebah yang mengamuk, tentu saja tim PRM juga berlari bersama Berlian! Menakutkan, tapi juga lucu sekali.

Setelah lolos serangan lebah yang pertama, Berlian belum juga jera mencari makan di dekat sarang lebah. Dia bergabung kembali dengan Lesan dan menikmati makanan di puncak pepohonan. Dan lagi-lagi dia harus menghadapi serangan lebah. Sekali lagi, Berlian melorot dari pohon dan berlari menuju Tim PRM. Kali ini, Berlian dan beberapa anggota tim tidak bisa melarikan diri dengan mudah. Berlian, serta juga drh. Agus dan Deni, disengat beberapa kali. Tidak jelas mengapa Berlian terus berlari ke arah tim kami. Bisa jadi karena dia berpikir kami bisa membantunya atau mungkin hanya sekedar ingin 'berbagi' penderitaan dan kemalangan.

Setelah kejadian itu, Berlian tampak enggan mencari makanan di puncak pohon, di mana para lebah berada. Beberapa bagian tubuhnya membengkak akibat sengatan lebah dan dia kemudian menghabiskan lebih banyak waktunya di tanah, sambil menggaruk bekas-bekas sengatan, dan tak perduli bahwa di tanah ia malah menjadi sasaran gigitan pacet.

Untungnya, Berlian tidak mudah menyerah mencari makan. Hari dingin dan dua serangan lebah membuatnya benar-benar lapar. Jadi dia pun mencari sumber makanan lain, yaitu rayap. Di tanah, Berlian dengan asyiknya membongkar beberapa sarang rayap, membelah-belahnya seperti sepotong roti agar dia bisa memasukkan lidah dan giginya ke dalam celah lorong rumah rayap tersebut. Slurrrp ... dengan cepat para rayap ini menjadi hidangan yang menyenangkan di hari yang dingin.


Cuaca yang muram dan petualangan tak tertuga hari ini - belum lagi sekujur tubuh yang pegal-pegal dari berlarian dan disengat lebah - membuat tim kami juga sangat lapar. Dan sangat mengantuk. Melihat Berlian kenyang makan rayap dan kemudian beristirahat terkantuk-kantuk setelah selesai makan, tim kami pun kembali ke Camp untuk juga menikmati makan siang ... diikuti dengan tidur siang. Hidup di hutan memang manis!

Perilaku Berlian mengingatkan drh. Agus akan orang-orang Eskimo. Seperti kita ketahui, di cuaca dingin yang ekstrim seperti di Arktik, pola makan orang Eskimo terutama terdiri dari daging yang kaya protein, karena protein memberikan panas tubuh yang lebih tahan lama dibandingkan sumber makanan bebasis karbohidrat. Dalam hati, drh. Agus bertanya-tanya apakah Berlian secara naluriah mengetahui hal ini, karena kemampuannya memilih sumber makanan yang tepat untuk beradaptasi dengan kondisi dan situasi di Gunung Belah, sangatlah baik.

Berlian juga mengajarkan Tim PRM tentang keberanian dan keteguhan. Dia mengajarkan kita bahwa jika kita tidak mudah menyerah dan terus mencoba, banyak pintu menuju sukses akan terbuka. You go, girl!




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup