PERJALANAN MOZA DARI KUWAIT HINGGA MENJADI IBU DI PULAU KAJA
Pada 13 September 2015, bayi orangutan betina berusia sekitar dua tahun memulai perjalanan panjang pulang kembali ke Indonesia. Bayi ini, kemudian diberi nama Moza.
Pada tanggal 27 Mei 2016, Program Reintroduksi Orangutan BOSF Samboja Lestari kembali melepasliarkan 5 orangutan ke Hutan Kehje Sewen di Kabupaten Kutai Timur dan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Melalui pelepasliaran orangutan ini kita merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yang jatuh pada tanggal 5 Juni.
Proses pelepasliaran diawali dengan acara konferensi pers yang diselenggarakan di Samboja Lodge dan dihadiri oleh CEO BOS Foundation Dr. Ir. Jamartin Sihite, bersama dengan Kepala BKSDA Kalimantan Timur Ir. Sunandar Trigunajasa N., Manager PT Pupuk Kaltim Bapak Nur’sahid, perwakilan BOS Swiss Elisabeth Labes, dan Bapak Ari Kusuma Dewa dari PT Total I&E Endonesie – mereka semua telah berbaik hati mendukung pekerjaan kami.
Sementara di klinik Samboja Lestari, teknisi kami sedang melakukan pemeriksaan akhir di kandang trasnportasi dan tim medis kami sedang mempersiapkan obat-obatan dan peralatan yang dibutuhkan untuk mengangkut orangutan dari Samboja Lestari ke titik rilis terakhir mereka di hutan.
Setelah acara press conference, seluruh undangan secara simbolis melepaskan keberangkatan orangutan yang akan dilepasliarkan.
Pembiusan di Sekolah Hutan Level 2 Samboja Lestari
Dalam proses pelepasliaran orangutan, kami berusaha untuk memastikan semua aman untuk orangutan dan kelima orangutan dibius di area Hutan Sekolah Hutan Level 2 sebelum dipindahkan ke kandang transportasi masing-masing. Raymond menjadi orangutan yang pertama, diikuti oleh Gadis, Angely, Kenji, dan Hope.
Pembiusan terhadap kandidat orangutan rilis ini selesai sekitar pukul 3 siang, kemudian tim menunggu kelima orangutan bangun dari pembiusannya, karena mengangkut mereka ketika mereka tertidur sangat lah tidak aman. Tim kami harus memastikan bahwa setiap orangutan telah pulih tanpa efek sakit dan bisa duduk dengan baik.
Setelah kelima orangutan tersadar, kandang transportasi mereka dimuat ke truk yang menunggu di dekat klinik.
Selamat Datang di Hutan Kehje Sewen!
Perjalanan diawali dari Program Reintroduksi BOSF Samboja Lestari sekitar pukul 3 sore waktu setempat. Rombongan yang terdiri dari 5 mobil double cabindan 1 truk bergegas menyusuri jalan provinsi ke arah Kota Samarinda, Sangatta, Bontang, dan menuju ke Muara Wahau. Perjalanan ditempuh selama sekitar 12 jam. Selama perjalanan, kami berhenti setiap 2 jam untuk memeriksa kondisi orangutan.
Di Muara Wahau yang merupakan kota terakhir persinggahan, rombongan beristirahat dan berkumpul. Di sini bergabung beberapa mobil lain yang akan mengawal rombongan sampai ke tepi hutan Kehje Sewen, 5 jam perjalanan dari Muara Wahau.
Kondisi jalan tanah berbatu di Hutan Kehje Sewen ternyata tidak semudah yang diperkirakan. Ada satu mobil double cabin yang harus kami tinggalkan di tengah jalan karena tanjakan yang terlalu curam.
Setibanya di “Jalan Buntu” atau titik terakhir di tepi Hutan Kehje Sewen, rombongan telah dinanti oleh satu kelompok adat Dayak Wehea yang memberikan upacara adat penyambutan kepada kami. Upacara ini disebut “Tel kiak tloh jiep seak lekok” yang artinya “Ritual penyambutan dan keselamatan serta persahabatan dengan alam raya Borneo Wehea”. Rombongan kami yang juga berisi beberapa mitra dari luar negeri sangat terpesona dengan penyambutan adat ini.
Dari Jalan Buntu, rombongan melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak, menurun curam sejauh sekitar 200 meter sampai ke tepi Sungai Telen, menyeberang sungai, dan kembali mengangkut kandang berisi orangutan sampai ke titik pelepasliaran.
Perjalanan yang menempuh medan cukup berat ini memakan waktu sampai lewat tengah hari. Proses pelepasliaran sendiri akhirnya dilaksanakan sekitar pukul 3 sore.
Segera setelah dilepasliarkan, tim Post-Release Monitoring (PRM) mulai melakukan pemantauan dan pencatatan teliti setiap kegiatan orangutan sampai dengan mereka membangun sarang untuk tidur di malam hari. Malam itu, tim PRM kami dengan senang hati melaporkan bahwa Angely, Hope, Gadis, Raymond dan Kenji tampaknya beradaptasi dengan lingkungan baru mereka dan teramati mampu mencari makan. Itu bagus untuk mendengar bahwa kelimanya menikmati makanan hutan.
Kami berharap Angely, Hope, Gadis, Raymond, dan Kenji menikmati kebebasan mereka dan terus berkembang di rumah baru mereka – dalam keadaan sejahtera di Hutan Kehje Sewen