Apakah kamu member?

AGIS MEMBAWA KABAR GEMBIRA DARI HUTAN TNBBBR

Upaya pemantauan orangutan di alam liar kembali menghadirkan kabar membahagiakan. Tim Post-Release Monitoring (PRM) kami baru-baru ini menjumpai orangutan betina yang diduga kuat adalah Agis, salah satu individu rehabilitan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS) yang dilepasliarkan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) pada 2018 lalu. Lebih istimewa lagi, Agis terpantau tengah menggendong bayi orangutan yang diperkirakan berusia 6–8 bulan.

Ditemukan Saat Ekspedisi Radio Tracking

Perjumpaan ini terjadi saat Tim PRM kami melakukan ekspedisi Radio Tracking (RT) untuk mencari dan mengecek sinyal orangutan di wilayah Sepan Suping, Daerah Aliran Sungai (DAS) Bemban. Awalnya, tim kami mendeteksi sinyal milik orangutan bernama Kejora dan segera bergerak menuju lokasi tersebut.

Baca juga: MELISA KEMBALI DENGAN BAYI DI PUNGGUNGNYA!

Namun, sesampainya di lokasi, individu yang terpantau justru bukan Kejora. Tim melihat individu lain yang tidak terdeteksi sinyal transmitternya oleh radar. Orangutan tersebut tampak menggendong bayi dan setelah dilakukan pengecekan, diketahui bahwa transmitter pada individu ini sudah tidak aktif.

Identifikasi Mengarah pada Agis

Untuk memastikan identitasnya, tim kami melakukan identifikasi lebih mendalam melalui ciri wajah dan kemiripan fisik. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, orangutan ini diduga kuat adalah Agis orangutan betina yang sebelumnya dilepasliarkan di kawasan TNBBBR pada awal tahun 2018. Bayi yang digendongnya kemudian diperkirakan sebagai anak pertamanya di alam liar. Untuk memudahkan penyebutan dan pencatatan, bayi tersebut diberi nama Agus.

Kabar ini menjadi sangat menggembirakan, mengingat Agis termasuk individu yang sudah cukup lama tidak terpantau. Kembalinya ia dalam kondisi sehat, terlebih dengan membawa bayi, menjadi indikator penting keberhasilan proses rehabilitasi dan pelepasliaran orangutan.


Jejak Panjang Perjalanan Agis

Agis pertama kali diselamatkan pada 22 April 2006 oleh tim penyelamat gabungan BKSDA Kalimantan Tengah dan Yayasan BOS. Saat itu, ia ditemukan sebagai hewan peliharaan warga di Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Selama sekitar tujuh bulan, Agis dirawat layaknya anak manusia.

Ketika tiba di pusat rehabilitasi, Agis masih berusia 2,5 tahun dengan berat badan 6,6 kg dan dalam kondisi dehidrasi serta malnutrisi. Ia kemudian menjalani masa karantina sebelum bergabung dengan Sekolah Hutan, tempat ia mempelajari keterampilan dasar sebagai orangutan liar.

Setelah lulus dari Sekolah Hutan, Agis melanjutkan ke tahap pra-pelepasliaran di Pulau Bangamat pada 2014, lalu dipindahkan ke Pulau Kaja pada 2015. Selama proses tersebut, Agis dikenal sebagai individu yang mudah beradaptasi, intens bersosialisasi dengan orangutan lain, serta memiliki karakter yang tenang tetapi mampu mempertahankan diri saat bersaing dengan orangutan lain selama menjalani rehabilitasi.

Bukti Keberhasilan Rehabilitasi Orangutan

Kini, di usia sekitar 21 tahun, Agis telah menjalani kehidupan liarnya di TNBBBR dengan bekal keterampilan bertahan hidup yang memadai. Kehadirannya kembali dalam pemantauan, bersama bayi yang ia rawat sendiri, menjadi bukti nyata bahwa orangutan rehabilitan juga mampu berkembang dan menjalani kesempatan keduanya untuk hidup secara alami di habitatnya.

Baca juga: BAGAIMANA REHABILITASI ORANGUTAN MEMPERKUAT UPAYA KONSERVASI

Perjumpaan dengan Agis dan Agus bukan hanya menjadi momen penting bagi tim kami saja, tetapi juga pengingat bahwa setiap proses panjang rehabilitasi dan pelepasliaran memiliki dampak nyata bagi kelestarian orangutan dan hutan Kalimantan. Harapannya, Agis dan anaknya dapat terus tumbuh sehat dan menjadi bagian dari populasi baru orangutan di TNBBBR.




Menurutmu orang lain perlu tahu? Bagikan!

image image image

CATATAN!



OK

YA, AMPUN!



Tutup